Rekonstruksi Historis Kerajaan Hindu di Jembrana: Genealogi Dinasti, Hegemoni Politik, dan Pola Akulturasi Perbatasan Bali Barat

Sejarah Jembrana

Kawasan ujung barat Pulau Bali, yang kini dikenal secara administratif sebagai Kabupaten Jembrana, menyimpan narasi historis yang sangat kaya dan kompleks. Jauh sebelum terbentuknya birokrasi modern, wilayah ini merupakan ruang bertemunya berbagai kekuatan politik besar dari Bali dan Jawa Timur, serta menjadi episentrum bagi pembentukan identitas kultural yang hibrid. Penyelidikan historis menunjukkan bahwa transisi Jembrana dari kawasan hutan belantara yang terisolasi menjadi entitas kerajaan Hindu yang berdaulat melibatkan dinamika geopolitik yang intens, proses pelapisan kekuasaan (stratifikasi politik), serta pola akulturasi unik yang membedakannya dari kerajaan-kerajaan lain di Bali bagian tengah dan timur.

Asal-Usul Teritorial: Lanskap Alam Jimbar Wana dan Fase Hunian Kuno

Berdasarkan temuan arkeologis, tanda-tanda hunian manusia di kawasan Jembrana diperkirakan telah eksis sejak periode prasejarah, sekitar 6.000 hingga 3.000 tahun sebelum Masehi. Dari perspektif toponimi and semiotika lokal, nama "Jembrana" diyakini berakar dari istilah bahasa Jawa Kuno atau Sansekerta, yaitu Jimbar-Wana, yang secara harfiah berarti "hutan yang luas". Mitologi lokal menceritakan kawasan belantara ini sebagai habitat dari Naga-Raja (raja ular), sebuah representasi simbolis dari kekuatan alam liar yang belum terjamah dan sakral. Sifat mitologis ini mengakar kuat dalam memori kolektif penduduk tradisional dan berfungsi memberikan dasar legitimasi spiritual bagi para pembangun kekuasaan di masa berikutnya.

Eksistensi hunian kuno ini diperkuat oleh berbagai penemuan artefak prasejarah di wilayah perbukitan Jembrana. Salah satu penemuan penting adalah sarkofagus batu di Dusun Munduk Tumpeng, Desa Berangbang, yang arealnya secara geografis terhubung dengan kawasan Bendungan Benel. Penemuan sarkofagus ini mengindikasikan bahwa sistem kepercayaan megalitik dan struktur sosial kemasyarakatan yang teratur telah lama berkembang di wilayah ini jauh sebelum pengaruh formal kerajaan Hindu masuk.

Secara geografis, Jembrana menempati posisi strategis sekaligus menantang. Berbatasan langsung dengan Selat Bali di sebelah barat, Kabupaten Buleleng di utara, Kabupaten Tabanan di timur, serta Samudra Hindia di selatan, kawasan ini memiliki morfologi ganda. Bagian utara didominasi oleh jajaran pegunungan vulkanik seperti Pegunungan Penginuman, Gunung Klatakan, Gunung Bakungan, Gunung Nyangkrut, Gunung Sanggang, dan Gunung Batas, dengan ketinggian bervariasi antara 250 hingga 700 meter di atas permukaan laut. Sebaliknya, bagian selatan merupakan dataran rendah pesisir yang landai. Struktur topografis ini membagi wilayah Jembrana menjadi daerah hulu yang berfungsi as orientasi spiritual dan daerah hilir yang menjadi pusat aktivitas ekonomi maritim serta agraris. Posisi geografis yang berhadapan langsung dengan ujung timur Pulau Jawa (Blambangan) memosisikan Jembrana sebagai zona transisi, sebuah wilayah perbatasan (frontier) yang dinamis dalam interaksi militer, politik, dan budaya.

Periodisasi Teologis-Politis: Sejak Kapan Jembrana Berstatus Kerajaan Hindu?

  • Fase Transisi Spiritual: Dari Animisme Menuju Hindu Kuno (Sebelum Abad ke-16): Sebelum masuknya pengaruh formal kekuasaan Hindu dari Bali bagian tengah dan timur, masyarakat tradisional Jembrana menganut kepercayaan lokal berupa animisme dan dinamisme. Penetrasi ajaran Hindu secara teologis mulai mengakar seiring dengan perjalanan spiritual (tirtha yatra) para pemuka agama Hindu terkemuka asal Pulau Jawa, seperti Sangkul Putih, Empu Kuturan, dan Dang Hyang Nirartha. Kehadiran para tokoh suci ini meletakkan fondasi spiritual Hindu yang menggantikan kepercayaan kuno secara damai.
  • Fase Pengaruh Politik Eksternal: Hegemoni Gelgel (Abad ke-16): Jembrana mulai diatur di bawah naungan administrasi politik bercorak Hindu formal ketika wilayah Bali berada di bawah pengaruh kuat Kerajaan Gelgel di Klungkung pada abad ke-16, terutama pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong (sekitar 1460–1550). Bukti tertua adanya struktur pemerintahan Hindu lokal di Jembrana tercatat pada Prasasti Berangbang (sekitar tahun 1580-an), yang menandai terbentuknya administrasi lokal pasca-penaklukan Blambangan oleh Gelgel. Puri-puri awal seperti Puri Bakungan (1400–1450 M) dan Puri Pacangakan juga mencerminkan fase pengaruh politik bernapaskan Hindu paling awal ini.
  • Fase Kedaulatan Swapraja Mandiri: Berdirinya Kerajaan Jembrana (1705 M): Meskipun pengaruh keagamaan Hindu telah ada sejak abad ke-16, Jembrana baru secara resmi berdiri sebagai sebuah kerajaan Hindu yang otonom, bersatu, dan berdaulat penuh pada awal abad ke-18. Kedaulatan ini ditandai oleh penobatan I Gusti Alit Takmung (I Gusti Ngurah Jembrana) sebagai Raja Jembrana I sekitar tahun 1705 M di bawah pengaruh trah Hindu-Mengwi. Pembangunan Puri Gede Jembrana (1705 M) and Puri Agung Negara (1830 M) yang mengadopsi rancangan kota berbasis kosmologi Hindu (Tri Mandala dan Sanga Mandala) memantapkan Jembrana sebagai kota kerajaan Hindu sejati di Bali Barat.

Genealogi Dinasti: Stratifikasi Kekuasaan Wangsa Agung Widya dan Wangsa Mengwi

Sejarah awal kekuasaan formal di Bali Barat tidak dapat dilepaskan dari hegemoni kerajaan-kerajaan besar di Bali bagian tengah dan timur. Pada abad ke-16, di bawah pemerintahan Dalem Waturenggong (sekitar 1460–1550), Kerajaan Gelgel yang berpusat di Klungkung berhasil memancarkan pengaruh politiknya secara masif hingga menjangkau Bali Barat. Pengaruh Gelgel ini meletakkan dasar pertama bagi struktur kekuasaan formal di kawasan Jembrana.

Sebelum terbentuknya dinasti tunggal Kerajaan Jembrana pada awal abad ke-18, catatan sejarah lokal menunjukkan keberadaan beberapa pusat kekuasaan (puri) yang bersifat sporadis dan lebih awal. Beberapa di antaranya adalah Puri Bakungan yang dipimpin oleh Ki Ageng Malele Cengkrong (Sri Ageng Malele Cengkrong) bergelar I Gusti Ngurah Bakungan sekitar tahun 1400–1450 M, serta Puri Pacangakan yang dipimpin oleh Ki Ageng Mekel Bang bergelar I Gusti Ngurah Pacangakan pada era yang sama. Aktivitas spiritual-politik di Puri Bakungan dan Puri Pacangakan ini meninggalkan jejak peninggalan suci berupa parhyangan suci di Pura Candi Bakungan dan Pura Ageng Pacangakan yang di kemudian hari disungsung oleh keturunan keluarga Puri Pancoran. Puri Pancoran sendiri didirikan sekitar tahun 1470 M oleh Ki Ageng Malelo Bang yang bergelar I Gusti Ngurah Pancoran.

Selain itu, wilayah Brambang (Berangbang) memegang peranan penting sebagai titik awal terlacaknya sistem pemerintahan formal di Jembrana. Berdasarkan bukti epigrafis pada Prasasti Berangbang, kawasan ini telah memiliki struktur pemerintahan sejak tahun 1580-an (akhir abad ke-16) yang dibangun tak lama setelah Kerajaan Blambangan di Jawa Timur menjadi daerah taklukan Gelgel. Fragmentasi kekuasaan awal ini sempat mengalami pergeseran ketika Kerajaan Berangbang dan kekuatan lokal Jimbarwana ditaklukkan oleh agresi militer dari Kerajaan Denbukit (Buleleng). Peristiwa perdamaian yang menandai berakhirnya perang tersebut terjadi di sebuah lembah di kaki Gunung Merbuk, yang hingga saat ini dinamakan kawasan "Gelar"

Struktur kekuasaan dinasti di Jembrana baru terkonsolidasi secara utuh melalui dua trah utama, yaitu Wangsa Agung Widya dan Wangsa Mengwi. Wangsa Agung Widya berakar dari keturunan Gusti Nginte, seorang patih agung di Kerajaan Gelgel. Keturunannya, Gusti Agung Basangtamiang (putra dari Gusti Agung Widya), diakui sebagai peletak dasar dinasti pertama di Jembrana. Kepemimpinan ini dilanjutkan secara turun-temurun oleh keturunannya hingga paruh pertama abad ke-18.

Pergeseran kekuasaan berikutnya membawa Jembrana masuk ke dalam pengaruh kuat Wangsa Mengwi. Berdasarkan dokumen babad lokal seperti Darmaning Bhakti Trah Jembrana, transisi kepemimpinan dipicu oleh kekosongan kekuasaan di wilayah barat pada paruh pertama abad ke-18. Untuk mengatasinya, seorang penguasa lokal dari trah sebelumnya, I Gusti Gede Andul, menyeberang menuju Kerajaan Mengwi untuk memohon kepada Raja Mengwi III agar berkenan menempatkan putra beliau sebagai pemimpin baru di Bali Barat. Permohonan tersebut dikabulkan dengan ditunjuknya putra Raja Mengwi III, yaitu I Gusti Alit Takmung (juga dikenal dalam babad sebagai Gusti Ngurah Agung Jembrana). Beliau mendirikan Puri Gede Jembrana pada awal abad ke-18 (versi kronik mencatat penobatan sekitar tahun 1705 M) dan dinobatkan sebagai penguasa bersatu pertama dengan gelar I Gusti Ngurah Jembrana. Sebagai simbol kedaulatan, pihak Mengwi membekali upacara penobatan tersebut dengan rakyat pengikut (wadwa), busana kerajaan, barang pusaka berupa tombak dan tulup, serta sebilah keris pusaka bernama "Ki Tatas".

Dinasti / Wangsa Nama Penguasa / Raja Periode Pemerintahan / Hubungan Konteks Historis dan Legitimasi Kekuasaan
Wangsa Agung Widya Gusti Agung Basangtamiang Abad ke-17 / Putra Patih Gelgel Gusti Agung Widya Peletak dasar dinasti awal Jembrana pasca-era Gelgel

Gusti Brangbangmurti Putra Gusti Agung Basangtamiang Melanjutkan fase konsolidasi kekuasaan internal

Gusti Gede Giri Sekitar tahun 1700 / Putra Brangbangmurti Fase akhir dominasi penuh faksi Agung Widya secara utuh

Gusti Ngurah Tapa & Gusti Made Yasa Awal Abad ke-18 / Bersaudara,  putra Gusti Gede Giri Mengonsolidasikan kekuatan lokal pra-Mengwi.

Gusti Gede Andul Paruh pertama Abad ke-18/ Putra Gusti Made Yasa Penguasa lokal terakhir Wangsa Agung Widya; menginisiasi hubungan diplomatik dengan Mengwi
Wangsa Mengwi I Gusti Alit Takmung (I Gusti Ngurah Jembrana) Pertengahan Abad ke-18 (r. 1705–1755) / Putra Raja Mengwi III Pendiri resmi Kerajaan Jembrana bersatu di bawah trah Mengwi, berkedudukan di Puri Gede Jembrana.

Gusti Ngurah Batu Hingga tahun 1766 / Putra I Gusti Alit Takmung Mempertahankan wilayah barat dari intervensi luar

Gusti Gede Jembrana Tahun 1766 – akhir abad ke-18 / Keponakan Gusti Ngurah Batu Mengembangkan hubungan dagang maritim di Selat Bali

Gusti Putu Andul Tahun 1797–1809 / Putra Gusti Gede Jembrana Menghadapi gempuran awal aliansi militer Tabanan dan Badung

Gusti Putu Sloka (Anak Agung Gede Sloka / I Gusti Agung Gde Seloka) Tahun 1809–1835 (atau r. 1818–1839) / Putra Gusti Putu Andul Raja Jembrana IV; memindahkan ibu kota ke barat sungai dan membangun Puri Agung Negara (1830).

Gusti Putu Ngurah Sloka (Ide I Gusti Agung Putu Ngurah) Tahun 1849–1855 / Putra Gusti Putu Sloka Raja Jembrana V; dipaksa mengakui kedaulatan Belanda sebelum diasingkan ke Purwakarta

I Gusti Ngurah Made Pasekan Tahun 1855–1866 / Patih Kerajaan & Regent Jembrana Memimpin Jembrana sebagai bupati (Regent) di bawah kontrol langsung kolonial Belanda.

Anak Agung Made Rai (Ide Anake Agung Made Rai) Tahun 1867–1882 / Cucu Gusti Putu Andul Raja Jembrana VI; dinobatkan kembali atas desakan rakyat sebelum berlakunya direct rule Belanda

Anak Agung Bagus Negara Tahun 1929–1950 / Cucu Anak Agung Made Rai Raja Jembrana VII; memimpin era pemulihan adat (Baliseering) hingga integrasi NKRI

Dinamika Geopolitik: Kehancuran Puri Gede Jembrana dan Pembangunan Puri Agung Negara

Keberadaan Puri Gede Jembrana sebagai pusat pemerintahan pertama tidak bertahan lama akibat tekanan militer dari luar. Pada awal abad ke-19, situasi politik Bali diwarnai oleh konflik antar-kerajaan yang sengit. Selama pemerintahan Gusti Putu Andul, perbatasan Jembrana di sebelah timur terus digempur. Pada tahun 1808, Kerajaan Tabanan melancarkan serangan besar ke perbatasan Jembrana, tepatnya di Desa Gumbrih, Pekutatan. Setahun berikutnya, pada tahun 1809, aliansi militer dari Kerajaan Tabanan dan Kerajaan Badung menyerbu jantung pertahanan Jembrana melalui muara Sungai Ijogading di Perancak. Serbuan aliansi ini berhasil menaklukkan Jembrana hingga tahun 1811 dan mengakibatkan kehancuran fisik yang parah pada kompleks Puri Gede Jembrana.

Setelah pendudukan Tabanan dan Badung mereda, Jembrana jatuh di bawah kendali politik Kerajaan Buleleng. Pada tahun 1824, pasukan Buleleng di bawah pimpinan rajanya, Ide I Gusti Agung Gde Karang, melakukan agresi militer ke Jembrana. Meskipun Buleleng berhasil menundukkan kekuatan militer lokal, mereka tidak berani menduduki Puri Jembrana secara permanen. Hal ini memicu ketidakstabilan politik yang luar biasa dan menciptakan kekosongan kekuasaan (power vacuum) yang berlangsung cukup lama di Jembrana antara tahun 1832 hingga 1835.

Di tengah situasi krisis eksistensial ini, kepemimpinan dilanjutkan oleh Ide I Gusti Agung Gde Seloka (yang di dalam daftar silsilah juga kerap dinamakan Gusti Putu Sloka, memerintah sekitar tahun 1809–1835 atau versi ketiga mencatat tahun 1818–1839). Menyadari posisi geografis Puri Gede Jembrana di timur Sungai Ijogading sangat rentan terhadap serangan agresi dari arah timur, Raja Gde Seloka mengambil keputusan strategis untuk memindahkan pusat kekuasaannya ke arah barat menyeberangi Sungai Ijogading. Pada tahun 1830, di lokasi baru yang lebih aman di sebelah barat sungai, beliau mendirikan sebuah kompleks istana megah yang diberi nama Puri Agung Negeri, yang dalam perkembangannya populer dengan sebutan Puri Agung Negara. Pemindahan pusat pemerintahan ini mengukuhkan nama "Negara" yang hingga hari ini diabadikan sebagai ibu kota Kabupaten Jembrana.

Puri Agung Negara dibangun dengan landasan kosmologis Hindu yang sangat kuat. Tata letak puri mengimplementasikan prinsip Tri Mandala (pembagian zona berdasarkan tingkat kesucian) dan berpadu dengan struktur tata ruang Sanga Mandala (sembilan arah mata angin). Pembagian ini terdiri dari tiga area utama:

  • Utama Mandala (Zona Suci/Privat): Terletak di bagian paling dalam dan paling tinggi secara spiritual. Di zona ini terdapat pusat pemujaan keluarga kerajaan, yaitu Pemerajan Agung. Di zona ini pula terdapat bangunan tempat tinggal utama raja (Saren Kangin), tempat penyimpanan pusaka, Bale Upakara (tempat persiapan banten), Bale Sekenem, Bale Gong, Lumbung (lumbung padi), serta garasi kendaraan khusus untuk Raja Jembrana VII.
  • Madya Mandala (Zona Semi-Publik): Merupakan zona transisi yang berfungsi sebagai pusat administratif sehari-hari, ruang penerimaan tamu puri, serta ruang birokrasi pemerintahan tradisional dijalankan.
  • Nista Mandala (Zona Publik/Terluar): Berfungsi sebagai gerbang masuk puri (Bencingah), tempat berkumpulnya masyarakat umum, lapangan (jaba puri), serta ruang interaksi terbuka antara pihak puri dengan rakyat.
Secara kosmologis, raja di dalam konsep birokrasi Hindu Jembrana diposisikan sebagai representasi ilahi di bumi. Puri Agung Negara dirancang sebagai miniatur makrokosmos untuk menjaga keseimbangan antara alam nyata (sekala) dan alam gaib (niskala) di wilayah Bali Barat. Struktur atap bertingkat (meru), ornamen ukiran yang menceritakan epik Hindu (seperti Mahabharata dan Ramayana), serta gapura megah berbentuk Candi Bentar merupakan simbolisasi visual dari gunung suci yang memancarkan energi kedamaian bagi seluruh rakyat Jembrana. Pada masa-masa berikutnya, kompleks bangunan ini juga mengalami penyesuaian planologi fungsional pengaruh Belanda tanpa merusak filosofi dasar tata ruang tradisionalnya.

Akulturasi Pluralistik: Harmonisasi Kultural Hindu-Islam di Tanah Loloan

Karakteristik paling menonjol dari Kerajaan Jembrana adalah tingkat pluralisme dan integrasi sosial yang sangat kuat antara komunitas Hindu dan Muslim. Sejak awal pembentukannya pada abad ke-17, sejarah Jembrana ditulis bersama oleh etnis Bali Hindu dan komunitas non-Bali yang beragama Islam, termasuk suku Bugis, Makassar, Melayu, dan Jawa. Keberadaan komunitas Muslim ini bukan sekadar sebagai minoritas yang ditoleransi, melainkan mitra strategis dalam bidang militer, perdagangan, dan ekonomi pertanian kerajaan.

Aliansi Militer dan Diplomasi Maritim

Sejak masa pemerintahan Anak Agung Putu Andul hingga raja-raja berikutnya, kekuatan militer Kerajaan Jembrana bersandar pada koalisi prajurit Hindu dan Muslim. Komunitas Muslim Bugis-Makassar yang menetap di Jembrana setelah menerima kekalahan dalam Perang Makassar diintegrasikan ke dalam korps pertahanan raja. Di bawah aturan kerajaan, seluruh persenjataan berat seperti meriam militer dioperasikan oleh para pelaut Muslim Bugis-Makassar yang terkenal tangguh di laut. Prajurit Muslim ini mengenakan destar hitam, ahli dalam menembak meriam, dan bertempur sejajar dengan pasukan Bali Hindu untuk melindungi Jembrana dari ekspansi eksternal.

Kekuatan militer Jembrana diperkuat pada akhir abad ke-18 dengan kedatangan pasukan Kesultanan Pontianak di bawah pimpinan Syarif Abdullah Al-Qodry sekitar tahun 1798 M. Syarif Abdullah, seorang panglima militer yang melarikan diri dari Kalimantan akibat kekecewaannya atas perjanjian antara Sultan Pontianak dengan Belanda pada tahun 1779, mendarat di pesisir Air Kuning, Jembrana. Setibanya di Jembrana, ia membangun persahabatan yang erat dengan Puri Jembrana. Sebagai bentuk kerja sama pertahanan, pasukan Pontianak diberikan tempat bermukim di tebing yang mengitari Sungai Ijogading dekat Bandar Pancoran. Senjata api mereka digunakan sepenuhnya untuk mendukung stabilitas Kerajaan Jembrana.

Tokoh Spiritual dan Integrasi Komunitas Muslim

Integrasi sosial ini juga diperkuat oleh kedatangan para ulama dan tokoh spiritual Muslim ke tanah Jembrana. Salah satu tokoh sentral adalah KH. Moh. Tahir (yang kemudian mengubah namanya menjadi H. Hasan untuk mengelabui kejaran VOC). Beliau merupakan ulama asal Ngelerog, Pacitan, Jawa Timur, yang hijrah bersama keluarganya ke Jembrana pada tahun 1830 M setelah dikejar oleh pasukan kolonial Belanda. Di Loloan, H. Hasan menetap dan membesarkan lima orang putranya, yaitu Ajoereso, Kalibin, Kaliban, Kalidjan, dan Sonto Karjo. Jalinan kekeluargaan ini melahirkan keturunan yang menjadi pilar dakwah dan memperkuat struktur sosial komunitas Muslim di Loloan.

Selain H. Hasan, terdapat pula figur penting seperti Encik Ya'qub dari Trengganu, Malaysia, yang menulis mushaf Al-Qur'an tulis tangan yang indah dan mewakafkan tanahnya untuk tempat ibadah serta pemakaman Muslim di Loloan. Keberadaan tokoh spiritual lain seperti Buyut Lebai, pendakwah asal Malaysia yang dihormati sebagai guru sekaligus penghulu pertama di kawasan Loloan, semakin memperkukuh integrasi spiritual komunitas Muslim di bawah naungan perlindungan puri.

Sinkretisme Usada dan Sistem Nandu

Bukti kedalaman akulturasi ini juga terekam dalam naskah kuno pengobatan tradisional (usada) yang dikoleksi dan digunakan oleh masyarakat di Jembrana. Naskah lontar tersebut digunakan baik oleh umat Hindu maupun umat Muslim sebagai acuan pengobatan medis tradisional. Di dalam lontar ini, konsep pengobatan bersandar pada kosmologi Hindu yang memetakan jenis penyakit dan obat berdasarkan wewenang para dewa, seperti Bhatara Brahma yang menguasai penyakit bersifat panas (panes) dengan obat berkhasiat hangat (anget), Bhatara Wisnu yang bertugas mengobati penyakit bersifat dingin (nyem) dengan obat berkhasiat menyejukkan (tis), serta Bhatara Iswara yang mengobati penyakit sedang (sebaa) dengan obat berkhasiat sedang (dumelada). Penggunaan naskah bertuliskan aksara Bali ini oleh komunitas Muslim mencerminkan terjadinya sinkretisme kultural dan tingkat penerimaan timbal balik yang sangat tinggi terhadap kearifan lokal masing-masing.

Di sektor agraris, kerja sama lintas iman ini difasilitasi melalui Sistem Nandu, yaitu sistem bagi hasil pertanian di mana pemilik lahan persawahan beragama Hindu memercayakan lahan mereka untuk digarap oleh petani Muslim dengan bagi hasil yang adil. Dari kerja sama agraris dan sosial ini lahir berbagai tradisi kultural unik yang diwariskan turun-temurun:
  • Nyama Loloan: Istilah hangat yang digunakan oleh komunitas Hindu Bali untuk menyebut tetangga Muslim mereka di kawasan Loloan (berarti "Saudara Loloan"). Komunitas Loloan mengembangkan bahasa unik, yaitu Bahasa Melayu Loloan, yang mengadopsi kosakata bahasa Melayu dengan pelapisan dialek bahasa Bali.
  • Tradisi Ngejot: Tradisi saling mengantarkan makanan matang antarpemeluk Hindu dan Islam pada hari raya keagamaan masing-masing (seperti Galungan, Nyepi, atau Idul Fitri).
  • Tradisi Male: Perayaan Maulid Nabi di Jembrana di mana telur-telur hias (male) diarak keliling kampung dengan iringan musik selawat menggunakan rebana, marawis, sekaligus mengadopsi elemen estetika hiasan Bali.
  • Kesenian Silat Bugis/Bajo: Seni bela diri khas yang diiringi oleh instrumen musik hibrid berupa perpaduan kendang Bugis-Melayu dan gong Bali, yang menceritakan heroisme pertahanan masa Kerajaan Jembrana.
  • Tenun Cagcag Negara: Kemahiran menenun tradisional menggunakan alat tenun cagcag yang berkembang pesat pada era keemasan Kerajaan Jembrana. Konon, pada zaman kerajaan, setiap anak perempuan sebelum memasuki masa pubertas diwajibkan oleh orang tua mereka untuk mahir menenun cagcag ini karena hasilnya sangat erat hubungannya dengan sarana upacara keagamaan Hindu Bali maupun kebutuhan busana keluarga kerajaan.

Spiritualitas dan Arkeologi: Pura Luhur Rambut Siwi dan Jaringan Pura Purba

Keberadaan kerajaan Hindu di Jembrana ditopang oleh jaringan institusi keagamaan purba yang berfungsi sebagai pilar spiritualitas wilayah Bali Barat. Di antara situs-situs suci tersebut, Pura Luhur Rambut Siwi memegang peranan yang sangat penting sebagai salah satu pura Sad Kahyangan atau Dang Kahyangan di Bali. Terletak di tepi tebing curam yang menghadap langsung ke Samudra Hindia di Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo (sekitar 18 kilometer arah timur dari Kota Negara), pura ini memancarkan aura kesucian yang kuat bagi para pemuja dan pelancong yang melintasi jalur selatan Bali.

Sejarah Pura Rambut Siwi berkaitan erat dengan perjalanan spiritual (tirtha yatra) Mpu Dang Hyang Nirartha, seorang pendeta Hindu suci asal Majapahit yang melakukan perjalanan ke Bali pada abad ke-16. Menurut mitologi lokal, ketika Dang Hyang Nirartha memasuki kawasan pura purba tersebut, penjaga pura mengharuskan beliau bersembahyang demi keselamatan dirinya agar tidak diterkam oleh harimau yang menjaga tempat itu. Namun, kekuatan spiritual sembahyang Dang Hyang Nirartha justru membuat bangunan pura kuno tersebut runtuh berkeping-keping. Atas permohonan maaf dan permohonan dari penjaga pura agar bangunan dikembalikan seperti semula, Dang Hyang Nirartha memulihkan pura tersebut secara utuh menggunakan kekuatan spiritualnya (kawisesan). Sebelum melanjutkan perjalanannya, beliau mencabut sehelai rambutnya (rambut) dan memberikannya kepada penjaga pura untuk disimpan di pelinggih utama sebagai sarana pemujaan sekaligus benteng perlindungan niskala bagi seluruh kawasan tersebut. Kejadian spiritual inilah yang melahirkan nama "Rambut Siwi" (rambut yang dihormati dan dipuja). Upacara pujawali (odalan) di pura ini dilaksanakan secara berkala setiap 210 hari sekali, jatuh pada hari Buda Umanis Wuku Prangbakat.

Selain Rambut Siwi, terdapat pula Pura Pucak Luhur Berangbang Agung yang berdiri kokoh di titik strategis perbukitan utara Jembrana. Pura ini dihormati sebagai Huluning Jembrana, hulu spiritual yang menjadi pusat orientasi vertikal masyarakat Bali Barat sekaligus jembatan getaran spiritual antara Pulau Bali dan Pulau Jawa (Blambangan). Penyelidikan historis terhadap eksistensi spiritualitas Jembrana diperkuat oleh prosesi formal pembacaan (mewacen) Prasasti Berangbang oleh para tokoh agung lintas puri, termasuk Ida Cokorda Mengwi XIII dan para penglingsir dari Puri Agung Klungkung, Puri Panjisakti (Buleleng), Puri Andul, hingga perwakilan Dalem Blambangan. Keberadaan Puri Andul itu sendiri, yang didirikan sekitar tahun 1730-1750, memegang peran sangat krusial sebagai simbol kesinambungan kepemimpinan adat, ruang musyawarah pengambilan kebijakan, serta benteng pelestari nilai-nilai luhur kemasyarakatan Bali Barat yang berlandaskan konsep Tri Hita Karana.

Birokrasi Kolonial dan Reorganisasi Administratif

Kedaulatan politik kerajaan Hindu di Jembrana mulai mengalami kemunduran setelah Pemerintah Kolonial Belanda memperluas cengkeraman kekuasaannya di Bali pasca-Perang Jagaraga II. Pada tanggal 25 Agustus 1849, Gubernur Jenderal Hindia Belanda memaksa Raja Jembrana V, Ide I Gusti Agung Putu Ngurah, untuk menandatangani piagam perjanjian bilateral yang menempatkan wilayah Jembrana di bawah protektorat (perlindungan langsung) Pemerintah Kolonial Belanda.

Kedaulatan puri semakin terkikis akibat intrik politik internal. Seorang Punggawa Kerajaan, I Gusti Ngurah Made Pasekan, melakukan hasutan kepada pihak Belanda. Akibat hasutan tersebut, Belanda menangkap Raja Jembrana V dan mengasingkannya ke Purwakarta, Jawa Barat. Sebagai imbalan atas dukungannya, pada tahun 1855 Belanda mengangkat I Gusti Ngurah Made Pasekan sebagai pemimpin daerah dengan gelar Regent (Bupati) Jembrana di bawah pengawasan langsung kontrolir Belanda. Namun, kepemimpinan Made Pasekan tidak bertahan lama; pada tahun 1866, ia ditangkap Belanda karena dianggap tidak cakap dalam memimpin administratif dan diasingkan ke Banyuwangi.

Selama masa pemerintahan Regent di bawah kontrol kolonial, birokrasi pemerintahan Jembrana dibagi ke dalam beberapa distrik administratif. Sistem administrasi wilayah ini dipimpin oleh Regent yang dibantu oleh tiga orang kepala distrik (punggawa) tradisional.
Wilayah Distrik Administratif Nama Punggawa yang Memimpin Konteks Birokrasi Kolonial Jembrana
Distrik Mendoyo I Wayan Jambe Mengoordinasi wilayah timur Jembrana yang agraris
Distrik Jembrana I Gede Murun Mengoordinasi wilayah tengah dan pusat perdagangan lama
Distrik Negara I Wayan Ucap Mengoordinasi wilayah barat dan sekitar kompleks puri baru

Atas desakan rakyat Jembrana yang merindukan kepemimpinan trah raja yang sah, Belanda mengembalikan kepemimpinan Jembrana kepada garis keturunan raja pertama. Pada tahun 1867, putra dari trah pendiri kerajaan, yaitu I Gusti Agung Made Rai (bergelar Ide Anake Agung Made Rai), dinobatkan sebagai Raja Jembrana VI. Beliau memimpin dengan penuh kearifan hingga tahun 1882. Setelah wafatnya Raja Jembrana VI, Belanda menghapuskan sistem pemerintahan kerajaan otonom secara sepihak berdasarkan Staatblad Nomor 123 Tahun 1882. Belanda mengambil alih kekuasaan secara langsung (direct rule) dengan alasan situasi darurat perang melawan kerajaan-kerajaan di Bali selatan (Tabanan, Badung, dan Klungkung). Jembrana pun diperintah secara langsung oleh asisten residen kolonial Belanda dari tahun 1882 hingga 1929.

Sistem pemerintahan adat sempat dihidupkan kembali pada tahun 1929 ketika Pemerintah Belanda menerapkan kebijakan pemulihan pemerintahan adat (Baliseering) di Bali. Cucu dari Raja Jembrana VI, yaitu I Gusti Agung Bagus Djelun (bergelar Anak Agung Bagus Negara), dinobatkan sebagai Raja Jembrana VII. Beliau memimpin swapraja Jembrana melintasi masa kolonial akhir, masa pendudukan militer Kekaisaran Jepang (Maret 1942–Agustus 1945), hingga masa awal Kemerdekaan Indonesia. Pasca-Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Raja Jembrana VII mengambil sikap patriotik dengan menyerahkan seluruh kekuasaan pemerintahan swapraja Jembrana kepada Republik Indonesia.

Proses transisi administrasi politik Jembrana dari swapraja menuju daerah modern berlangsung dalam beberapa tahapan krusial:
  • Tahun 1950: Pasca-pembubaran Negara Indonesia Timur (NIT), Bali diintegrasikan sebagai bagian dari Provinsi Sunda Kecil, di bawah gubernur Susanto Tirtoprodjo, sementara Jembrana masih dipimpin oleh Raja Jembrana VII.
  • Tahun 1958: Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Bali, NTB, dan NTT. Undang-undang ini secara resmi mengubah status swapraja Kerajaan Jembrana menjadi Kabupaten Jembrana, dengan Raja Jembrana VII bertindak sebagai Bupati Jembrana pertama.
  • Tahun 1960: Gubernur Bali secara resmi menunjuk Ida Bagus Dosther untuk menjabat sebagai Bupati Jembrana berikutnya. Penunjukan bupati dari luar trah kerajaan ini menandai berakhirnya peran politik praktis dan administratif dari Puri Agung Negara Jembrana secara fungsional dalam pemerintahan daerah.
Meskipun fungsional politiknya telah berakhir, garis keturunan dinasti tetap dilestarikan di dalam lingkungan puri sebagai simbol sejarah. Setelah wafatnya pemimpin puri terdahulu, Anak Agung Gde Agung Benny Sutedja pada 4 Oktober 2019, lembaga kekerabatan keluarga besar puri memilih Ida Anak Agung Hari Sutedja sebagai kepala dinasti (penglingsir) Puri Agung Negara Jembrana pada tanggal 30 Januari 2021.

Simpulan

Sejarah kerajaan Hindu di Jembrana menyajikan sebuah konstruksi historis mengenai wilayah perbatasan (frontier) di Bali Barat yang tangguh dan adaptif. Berawal dari belantara Jimbar-Wana, wilayah ini bertransformasi menjadi panggung dinamika politik yang dinamis. Pertarungan hegemoni dinasti besar dari Gelgel dan Mengwi melahirkan sistem kerajaan lokal yang kokoh, ditandai dengan pembangunan Puri Gede Jembrana hingga berdirinya Puri Agung Negara sebagai pusat administrasi modern pada tahun 1830.

Keunikan terbesar peradaban Hindu Jembrana terletak pada pluralisme kulturalnya. Jembrana membuktikan bahwa integrasi sosial antara umat Hindu Bali dan komunitas Muslim (khususnya komunitas Loloan) dibangun melalui kerja sama yang erat di berbagai sektor: pertahanan militer bersama pasukan Bugis-Pontianak, pengelolaan pelabuhan niaga Bandar Pancoran, penerapan sistem agraris Nandu, serta penggunaan naskah kuno pengobatan tradisional secara sinkretis. Meskipun peran birokrasi politik praktis Puri Agung Negara berakhir sejak tahun 1960, warisan spiritualitas, tata ruang kosmologi Hindu, serta tradisi toleransi kultural yang diwariskan oleh para leluhur Jembrana tetap eksis sebagai pilar identitas masyarakat Bali Barat.

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku, Jurnal, dan Karya Ilmiah (Skripsi/Tesis)

Ali, B. (2019). Awal Mula Muslim di Bali: Kampung Loloan Jembrana Sebuah Entitas Kuno. Yogyakarta: Deepublish.  

Indiani, I. A. A. (2013). Tinggalan Arkeologi di Pura Candi Bakungan Dusun Penginuman Kecamatan Melaya Kabupaten Jembrana (Skripsi Sarjana, Jurusan Arkeologi, Universitas Udayana, Denpasar).  

Mary Jane Ida Bagus. (2006). From the margins of history: a long Babad of Jembrana, Bali (Disertasi Doktoral, School of Humanities and Social Science, University of Newcastle).  

Sabara, E. (2020). Para Ulama dan Tokoh Loloan Abad ke-19 Masehi di Jembrana Bali: Syarif Tue dan Encik Ya'qub. Surabaya: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas 17 Agustus 1945.  

Sauki, M. (2006). Tradisi Ngejot (Studi Tentang Budaya Lokal Masyarakat Hindu dan Islam di Kab. Jembrana - Bali) (Skripsi Sarjana, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta).  

Suwitha, I. W., dkk. (2021). "Puri Agung Negara Jembrana: Sejarah, Struktur dan Fungsi serta Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA". Jurnal Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Vol. 9 (No. 1).  

B. Artikel Berita, Portal Sejarah, dan Media Massa

Antara News Bali. (2011, September). "Situs Sejarah Pura Gede Jembrana Akan Diperbaiki".  

Balebengong.id. (2025, Desember). "Loloan: Sejarah Panjang Keberagaman di Bali".  

DetikBali. (2025, September). "Pura Rambut Siwi dan Kisah Perjalanan Dang Hyang Nirartha".  

DetikBali. (2022, April). "Uniknya Loloan, Kampung Kuno Berbahasa Melayu di Jembrana".  

Kanalbali.id. (2025, Juli). "Kampung Loloan, Warisan Sejarah Islam di Bali Barat".  

Kompas.com. (2021, Desember). "Kerajaan Jembrana: Sejarah, Raja-raja, dan Keruntuhan".  

Media Bali Online. (2026, Maret). "Huluning Jembrana: Sejarah Pura Kahyangan Jagat Pucak Luhur Berangbang Agung Sebagai Episentrum Spiritualitas Lintas Kabupaten dan Pulau".  

Nangun Sat Kerthi Loka Bali. (2026, April). "Jejak Sejarah Jembrana: Klungkung, Mengwi hingga Lahirnya Puri Andul".  

C. Ensiklopedia dan Kamus Digital

Basabali Dictionary. "Place Jembrana".  

Basabali Dictionary. "Place Berangbang".  

Wikipedia bahasa Indonesia. "Kerajaan Jembrana".  

Wikipedia bahasa Indonesia. "Puri di Bali".  

Wikipedia bahasa Indonesia. "Ngejot".

D. Dokumentasi Lembaga, Kementerian, & Situs Pemerintah

Bappeda Jembrana / Pemerintah Kabupaten Jembrana. (n.d.). Sejarah dan Ibukota Kabupaten Jembrana. Diakses dari jembranakab.go.id.  

Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI. (2012). Kumpulan Dokumentasi Warisan Budaya Takbenda: Makepung di Jembrana.  

Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kemenkumham RI. (n.d.). Kemahiran Tradisional Tenun Cagcag Negara. KIK Komunal Indonesia.  

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. (2020). Kajian Naskah Kuno tentang Pengobatan Tradisional di Bali.  

Pemerintah Kabupaten Buleleng. (n.d.). Pusaka Budaya Bali Utara. Diakses dari bulelengkab.go.id.  

E. Jurnal Ilmiah & Karya Akademis Tambahan

Maliki Interdisciplinary Journal (MIJ). (2023). "Kampung Muslim Loloan Bukti Toleransi Antar Umat Beragama di Bali". Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Vol. 1 (No. 6).  

Suwitha, I. W. (2020). "Puri Agung Negara Jembrana: Virtual Tour Bangunan Bersejarah". Universitas Pendidikan Ganesha.  

F. Portal Sejarah & Ensiklopedia Digital Tambahan

Scribd Document. "Arsitektur Nusantara: Struktur Puri Bakungan, Pacangakan, dan Pancoran".  

Scribd Document. "Legenda Jembrana: Kraton Agung Jembrana dan Kraton Agung Negara".  

Sultans in Indonesia Blog. (n.d.). Kerajaan Jembrana, 1705-1960. Diakses dari sultansinindonesieblog.wordpress.com.  

Wikipedia bahasa Indonesia. "Baler Bale Agung, Negara, Jembrana" (Arsip mengenai pembagian distrik kolonial).  

Wikipedia bahasa Inggris. "Raja" (Arsip silsilah penguasa Jembrana dan era protektorat Belanda).  

G. Panduan Perjalanan & Media Komunitas Tambahan
Antara News Bali. (2023). "Penemuan Sarkofagus di Dusun Munduk Tumpeng Desa Berangbang".  

Bali Wisata Tour. (n.d.). Pura Rambut Siwi: Pura Suci di Kabupaten Jembrana. Diakses dari baliwisatatour.com.  

Gotravelly Blog. (2024). 9 Puri atau Kerajaan di Bali yang Masih Ada Hingga Kini.  

Trip.com. (2025). Puri Agung Negara: Jendela Sejarah Bali Barat.

I Wayan Ardika
I Wayan Ardika Saya adalah Seorang Guru Sekolah Dasar dan Konten Kreator. Melalui Blog ini, saya ingin terus belajar sambil berbagi.

Post a Comment for "Rekonstruksi Historis Kerajaan Hindu di Jembrana: Genealogi Dinasti, Hegemoni Politik, dan Pola Akulturasi Perbatasan Bali Barat"